Cerita Bekas Pecandu yang Terlahir Kembali di Ruang ICU
Oleh Redaksi Berita Hari

Ringkasan Berita
- •Tio mengalami kecelakaan yang serius di Jalur Flyover Tanjung Barat, Jakarta Selatan
- •Ia mengalami cedera otak dan dipindahkan ke ruang ICU
- •Kecelakaan itu justru menjadi hantaman keras yang menekan tombol factory reset atas seluruh hidup kelam Tio
Pada malam Ramadan 2025, Tio (33) mengalami kecelakaan yang serius di Jalur Flyover Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Kejadian itu berlalu begitu cepat, tetapi dampaknya sangat besar pada kehidupan Tio. Ia mengalami cedera otak dan dipindahkan ke ruang ICU. Di sana, dokter memberitahu Maria (63), ibu Tio, bahwa jika Tio selamat, ia tidak akan pernah kembali ke kondisi semula. Namun, takdir masih menyisakan skenario lain. Kejadian itu justru menjadi hantaman keras yang menekan tombol factory reset atas seluruh hidup kelam Tio yang berjalan belasan tahun ke belakang.
Tio dan Angga (33), sahabat karibnya, tumbuh bersama sejak sekolah dasar hingga lulus dari SMP dan SMA swasta Katolik bergengsi di Jakarta Selatan. Tio adalah anak yang periang, pintar di kelas, memiliki jiwa seni melukis yang tinggi, dan jago bermain sepak bola. Namun, setelah ayahnya pergi usai bercerai saat Tio berusia tiga tahun, Tio mulai mengalami kesepian. Ia merantau ke Bandung untuk kuliah hukum, tetapi rasa kesepian itu tidak pernah hilang. Ia mulai mengenal dan coba-coba menghisap ganja, hingga rutin menjadi kebiasaan.
Ketergantungan ganja kemudian berkembang menjadi obat-obatan psikotropika Golongan IV seperti Dumolid dan Calmlet, hingga akhirnya mencicipi sabu. Tio bersama teman-teman kampusnya kerap memakai obat-obatan itu di dalam mobil di parkiran kampus. Intensitasnya mengganas dari dua tablet menjadi enam tablet sehari. Kebiasaan ini menghancurkan perkuliahannya; selama empat semester berturut-turut, IPK Tio bertengger di angka nol koma nol. Ia justru terisolasi dari kehidupan sosial, mengurung diri di kamar kos, dan menghabiskan Rp700 ribu dari total Rp1 juta uang jajan mingguannya hanya untuk membeli sabu.
Tahun 2014, Tio pindah lagi ke kampus ketiga, sebuah kampus seni bergengsi di Jakarta untuk jurusan perfilman. Namun, bukannya insaf, ia justru kian jatuh ke lubang ketergantungan yang akut. Ia hanya duduk dengan tatapan kosong, mengigau tanpa makna, sementara air liurnya menetes di ujung bibir yang diusap perlahan oleh Maria. Angga melihat sahabat kecilnya itu sudah hancur total.
Kecelakaan di flyover itu justru menjadi hantaman keras yang menekan tombol factory reset atas seluruh hidup kelam Tio. Di ruang ICU, tubuh Tio terkapar tak berdaya melewati tiga hari masa koma yang kritis. Dokter memperingatkan Maria bahwa jika pun selamat, Tio tidak akan pernah kembali ke kondisi semula. Namun, takdir masih menyisakan skenario lain. Kecelakaan mengerikan itu justru menjadi hantaman keras yang menekan tombol factory reset atas seluruh hidup kelam Tio yang berjalan belasan tahun ke belakang.


