Liu Debing, Bos AI China Pesaing OpenAI yang Berharta Rp470 T
Oleh Redaksi Berita Hari

Ringkasan Berita
- •Liu Debing lahir di China pada tahun 1975
- •Meraih gelar sarjana ilmu komputer dari Universitas Beijing Jiaotong pada tahun 1997
- •Mendirikan Zhipu AI pada tahun 2019
- •Mengembangkan model AI perusahaan dengan kolaborasi
- •Membawa Zhipu AI melantai di bursa saham Hong Kong pada tahun 2026
Liu Debing, pendiri dan Chairman Knowledge Atlas Technology atau yang lebih dikenal dengan Zhipu AI, telah menjadi salah satu orang terkaya di dunia dengan kekayaan yang mencapai US$26 miliar atau sekitar Rp470,09 triliun. Menurut data Forbes, Liu berada di urutan ke-93 orang terkaya di dunia.
Berbagai sumber menunjukkan bahwa Liu lahir di China pada tahun 1975. Informasi tentang latar belakang keluarga dan masa kecilnya masih minim. Namun, menurut catatan Bloomberg, Liu meraih gelar sarjana ilmu komputer dari Universitas Beijing Jiaotong pada tahun 1997. Ia kemudian melanjutkan studi di bidang yang sama dan meraih gelar doktor dari Akademi Ilmu Pengetahuan China pada tahun 2007.
Sebelum mendirikan Zhipu AI, Liu bekerja di Institut Teknologi Beijing selama lima tahun dan menjadi insinyur senior di Universitas Tsinghua. Pada tahun 2019, Liu dan beberapa rekan penelitinya mendirikan Zhipu AI dengan tujuan awal mengkomersialkan aset komputasi milik universitas tempat mereka bekerja. Perusahaan ini menarik perhatian investor teknologi ternama di China, termasuk Alibaba dan Tencent.
Dalam mengembangkan model AI perusahaan, Liu mengedepankan kolaborasi sehingga modalnya bisa diakses oleh banyak pihak. Perusahaan dengan layanan Z.ai-nya kerap disebut sebagai pesaing OpenAI, perusahaan pemilik ChatGPT. Pada awal 2025, Pemerintah AS memasukkan Zhipu AI ke dalam daftar hitam perdagangan Negeri Paman Sam dengan alasan keamanan nasional. Namun, Liu berhasil membawa Zhipu AI melantai di bursa saham Hong Kong pada tahun 2026 dan menghimpun US$560 juta dengan menjual 37,4 juta saham.
Bulan ini, perusahaan kembali mendapatkan suntikan dana sebesar US$4 miliar melalui penjualan saham sekunder di Bursa Efek Hong Kong. Zhipu AI berencana menggunakan hasil penjualan saham itu untuk penelitian dan pengembangan, termasuk perekrutan, kapasitas komputasi, layanan teknis, dan ekspansi bisnis hingga beragam investasi strategis. Di bawah kepemimpinan Liu, Zhipu AI terus mengembangkan teknologinya dan meluncurkan model berbasis open source GLM 5.2 yang sukses melompati model-model serupa lainnya.
Peluncuran ini menimbulkan kehebohan di Silicon Valley dan membuat nilai kapitalisasi pasar perusahaan menembus US$128 miliar (Rp2.314,3 triliun). Saat ini, nilai kapitalisasi pasar perusahaan berkisar US$93 miliar (Rp1.691,49 triliun). Liu termasuk sosok konglomerat yang jauh dari sorotan, dengan kehidupan pribadi dan keluarganya yang minim diberitakan oleh media.


