TERKINI
Dasco Pimpin Rapat Bahas Tindak Lanjut Penyusunan Perpres Ojek OnlineVozinha Mengalahkan Unai Simon di Tim Impian Piala Dunia 2026: Kiper Cape Verde yang MenggembirakanSudaryono Tegaskan Tak Toleransi Praktik Korupsi di Program MBGHarga Emas Antam Naik, Sejumlah Penjual Merek Lain Lebih MurahHari Anak Nasional 2026: BNI Perkuat Program Pencegahan Stunting untuk Membangun Generasi Indonesia EmasSabar/Reza Rontok di Babak 16 Besar China Open 2026Babak Baru Kasus Blueray: Kepala Bea Cukai Kediri Tersangka KorupsiJadwal Siaran Langsung Timnas Voli Indonesia vs Korea Selatan: Persiapan Menuju Kejuaraan Tingkat Asia Tenggara dan AsiaDaftar Jalan Tol yang Disiapkan Jadi Landasan Darurat Pesawat Tempur, Apa Keunggulan dan Keterbatasan?Netizen Tidak Setuju Best 11 Piala Dunia 2026 Versi FIFA: Kenapa?Dasco Pimpin Rapat Bahas Tindak Lanjut Penyusunan Perpres Ojek OnlineVozinha Mengalahkan Unai Simon di Tim Impian Piala Dunia 2026: Kiper Cape Verde yang MenggembirakanSudaryono Tegaskan Tak Toleransi Praktik Korupsi di Program MBGHarga Emas Antam Naik, Sejumlah Penjual Merek Lain Lebih MurahHari Anak Nasional 2026: BNI Perkuat Program Pencegahan Stunting untuk Membangun Generasi Indonesia EmasSabar/Reza Rontok di Babak 16 Besar China Open 2026Babak Baru Kasus Blueray: Kepala Bea Cukai Kediri Tersangka KorupsiJadwal Siaran Langsung Timnas Voli Indonesia vs Korea Selatan: Persiapan Menuju Kejuaraan Tingkat Asia Tenggara dan AsiaDaftar Jalan Tol yang Disiapkan Jadi Landasan Darurat Pesawat Tempur, Apa Keunggulan dan Keterbatasan?Netizen Tidak Setuju Best 11 Piala Dunia 2026 Versi FIFA: Kenapa?
Kesehatan

Anak Batuk Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Terkena GERD

Oleh Redaksi Berita Hari

Anak Batuk Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Terkena GERD

Ringkasan Berita

  • GERD pada anak umumnya mulai ditemukan setelah usia satu tahun
  • Kebiasaan setelah makan langsung tidur, banyak melompat atau berlari, makan terlalu kenyang, hingga memakai celana yang terlalu ketat dapat memicu GERD
  • GERD dapat menimbulkan keluhan lain seperti nyeri dada, kesulitan menelan, dan gangguan tidur

Gastroesophageal reflux disease (GERD) atau penyakit refluks asam lambung seringkali diidentikkan dengan penyakit yang menyerang orang dewasa. Namun, kondisi ini juga dapat dialami oleh anak-anak, bahkan berisiko mengganggu proses tumbuh kembang jika tidak segera ditangani. Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastroentero-Hepatologi Anak Eka Hospital MT Haryono, Eva Jeumpa Soelaeman menjelaskan bahwa GERD pada anak umumnya mulai ditemukan setelah usia satu tahun. Berbeda dengan bayi yang masih sering mengalami gumoh karena saluran cerna belum matang, GERD pada anak yang lebih besar biasanya dipicu oleh kebiasaan sehari-hari.

GERD merupakan kondisi ketika isi lambung kembali naik ke kerongkongan akibat melemahnya otot sfingter, yakni katup yang memisahkan lambung dan kerongkongan. Dalam kondisi normal, otot ini akan menutup rapat sehingga makanan dan asam lambung tidak kembali naik. Banyak orang tua menganggap semua muntah atau gumoh pada anak merupakan GERD. Padahal, keduanya merupakan kondisi yang berbeda. Pada bayi, naiknya isi lambung yang menyebabkan gumoh disebut gastroesophageal reflux (GER). Kondisi ini tergolong normal karena otot sfingter belum berkembang sempurna dan biasanya akan membaik seiring bertambahnya usia.

Sementara itu, GERD merupakan kondisi yang lebih serius. Refluks terjadi berulang kali hingga menimbulkan keluhan, mengganggu aktivitas, bahkan memengaruhi pertumbuhan anak sehingga membutuhkan penanganan medis. Muntah dan nyeri perut menjadi keluhan yang paling sering dialami anak dengan GERD. Namun, gejalanya tidak selalu khas sehingga kerap terlambat dikenali. Dalam beberapa kasus, anak justru datang dengan keluhan batuk berkepanjangan yang tidak kunjung sembuh. Dokter Eva Jeumpa Soelaeman pernah mendapat pasien yang dirujuk dari dokter paru karena batuk selama satu tahun tidak sembuh. Setelah diperiksa, ternyata penyebabnya adalah GERD.

Selain itu, GERD juga dapat menimbulkan keluhan lain seperti nyeri dada, kesulitan menelan, dan gangguan tidur. GERD yang terus berulang bukan hanya membuat anak tidak nyaman, tetapi juga dapat mengganggu proses tumbuh kembangnya. Menurut Dokter Eva, komplikasi yang paling dikhawatirkan adalah ketika anak kehilangan nafsu makan sehingga asupan gizinya tidak terpenuhi. Kalau anak tidak mau makan karena GERD, berat badan bisa turun atau sulit naik, tinggi badan ikut terganggu, bahkan dapat memengaruhi perkembangan kecerdasan dan meningkatkan risiko stunting.

Pada kondisi yang lebih berat, isi lambung juga bisa masuk ke saluran pernapasan dan menyebabkan pneumonia aspirasi. Dalam jangka panjang, GERD yang tidak diobati juga dapat memicu peradangan pada kerongkongan hingga meningkatkan risiko Barrett esofagus. Orang tua sebaiknya tidak menunda pemeriksaan apabila anak mengalami keluhan yang mengarah pada GERD, terutama jika disertai tanda bahaya seperti muntah yang terus-menerus, nyeri perut yang hebat, atau gangguan pernapasan. Penanganan GERD pada anak umumnya diawali dengan perubahan gaya hidup dan pola makan. Orang tua dapat membantu mengurangi gejala dengan beberapa langkah berikut: Hindari makanan tinggi lemak, gorengan, makanan cepat saji, makanan olahan, dan minuman bersoda. Beri jeda minimal tiga jam sebelum anak tidur setelah makan. Dengan mengenali gejala sejak dini dan menerapkan pola hidup yang tepat, GERD pada anak dapat dikendalikan sehingga tidak mengganggu proses tumbuh kembang maupun kualitas hidupnya.

Pertanyaan Umum

Apakah GERD dapat dialami oleh anak-anak?
Ya, GERD dapat dialami oleh anak-anak, bahkan berisiko mengganggu proses tumbuh kembang jika tidak segera ditangani
Apa yang dapat menyebabkan GERD pada anak?
Kebiasaan setelah makan langsung tidur, banyak melompat atau berlari, makan terlalu kenyang, hingga memakai celana yang terlalu ketat dapat memicu GERD